Setangkai Mawar
Kuil Kofuku-Ji menyapaku dalam diam. Kami seperti kawan lama yang saling bicara tanpa berkata. Pantulan Kofuku-Ji di atas jernihnya kolam Sarusawa menjadi peneduh jiwaku yang bergejolak karena berita pernikahan Aoi dengan kakakku. Kofuku-Ji pagi ini seolah berseru padaku. Sekian lama aku menjadi lelaki tak bernyali yang menyangka Aoi akan datang padaku. Aku hidup dalam bayang mata indah berwarna biru miliknya. Meski kemungkinan bersamanya kian jauh, Aoi harus tahu perasaanku. Tepukan halus di pundakku membuyarkan dialog tanpa kataku dengan Kofuku-Ji. “Sudah lama menunggu, Dai?” Aoi tersenyum padaku. Ia menyodorkan sebungkus senbei yang kemasannya bergambar rusa sambil berkata, “Kau mau, Dai?” Aku menggeleng sambil tersenyum. Aoi selalu tahu cara menggodaku. “Sudah lama sekali ya, sejak kau meninggalkan Nara. Kau mau berjalan ke Nara Park? Kau tidak kangen dengan anak-anakmu di sana?” Aoi menggoyangkan bungkusan senbei bergambar rusa di depan wajahku sambil tertawa keci...