Setangkai Mawar

Kuil Kofuku-Ji menyapaku dalam diam. Kami seperti kawan lama yang saling bicara tanpa berkata. Pantulan Kofuku-Ji di atas jernihnya kolam Sarusawa menjadi peneduh jiwaku yang bergejolak karena berita pernikahan Aoi dengan kakakku.

Kofuku-Ji pagi ini seolah berseru padaku. Sekian lama aku menjadi lelaki tak bernyali yang menyangka Aoi akan datang padaku. Aku hidup dalam bayang mata indah berwarna biru miliknya. Meski kemungkinan bersamanya kian jauh, Aoi harus tahu perasaanku.
Tepukan halus di pundakku membuyarkan dialog tanpa kataku dengan Kofuku-Ji.


“Sudah lama menunggu, Dai?” Aoi tersenyum padaku. Ia menyodorkan sebungkus senbei yang kemasannya bergambar rusa sambil berkata, “Kau mau, Dai?”
Aku menggeleng sambil tersenyum. Aoi selalu tahu cara menggodaku.

“Sudah lama sekali ya, sejak kau meninggalkan Nara. Kau mau berjalan ke Nara Park? Kau tidak kangen dengan anak-anakmu di sana?” Aoi menggoyangkan bungkusan senbei bergambar rusa di depan wajahku sambil tertawa kecil.

Aku berusaha tidak terpancing candaannya. Aku harus fokus pada tujuanku hari ini.

“Hmm ... ya. Tapi Nara tidak jauh berubah.” Kalimat itu sebenarnya aku tujukan padanya yang tetap memesona meski lima belas tahun berlalu.

“Aku pikir kau tidak akan kembali, Dai. Ayolah kita bicara sambil berjalan-jalan. Senbei ini sengaja aku beli untuk dinikmati rusa di sana.” Aoi sedikit merajuk.
Aku tak bisa menolak tarikan tangannya.

Rusa-rusa ini sering ia katakan sebagai anak-anakku. Meski sebenarnya aku menolak, namun aku tidak sampai hati membuat wajahnya murung. Aku menghargai usahanya membuat jiwaku yang kaku sedikit tergelitik, meski dengan candaannya yang kadang sadis bagiku.

Aku menghela napas. Tangan kananku meraih setangkai mawar yang aku selipkan di saku dalam mantelku.

“Aoi, entah bagaimana aku menyampaikannya. Tapi, sejak aku menangkap gambar dirimu di depan Kofuku-Ji lima belas tahun lalu, aku meyakini satu hal.” Aku beranikan diri menatap dirinya. Ada seberkas rona di wajahnya. Perhatiannya pada rusa kini beralih padaku.

“Aku meyakini bahwa hati kita saling bertaut. Meski sekarang tidak mungkin.”

“Dai?” Aoi menutup mulutnya dengan jemari lentiknya. Matanya tertuju pada setangkai mawar di tanganku.

“Maafkan aku, calon mempelai saudaraku. Aku harap pernikahanmu dengannya bahagia.” Aku memberikan mawar merah yang kuncupnya belum mekar sempurna. Itulah bunga kesukaannya. 

Aku tak sanggup berdiri lama di hadapannya. Aku pergi menjauh. Pikiranku kembali pada kenangan lima belas tahun lalu. Seandainya hari itu aku mengakui mawar yang ku berikan padanya adalah pemberianku, bukan saudaraku, mungkinkah Aoi akan jatuh hati padaku?

Tanpa aku tahu, Aoi menangis. Calon mempelai tercantik yang aku impikan telah memilih cintanya.

“Dai ... lagi-lagi kau pergi tanpa mau tahu perasaanku. Seandainya kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama. Selamat tinggal, kekasih yang tak pernah katakan cinta.” Aoi meremas mawar terakhir dari Dai dalam pelukannya.

Komentar